 |
 |
|
|
 |
| PENGADUAN ONLINE |
 |
 |
| Jika ada yang ingin diadukan, isi formulir di bawah ini. Form Aduan |
|
 |
 |
 |
| SEKRETARIAT |
 |
 |
Jl. Pulo Asem Utara I No. 16 RT/RW.008 /012
Kelurahan Jati
Kecamatan Pulogadung
Jakarta Timur 13220
Tel/Fax: 021-4891386
Email: secretariat@migrantcare.net
Twitter: @migrantcare
|
|
 |
 |
 |
|
 |
|
|
 |
 |
|
| INTERNATIONAL MIGRANTS DAY 18 DECEMBER 2011 | |
 Sumber foto: The Jakarta Post
Pernyataan Sikap dan Catatan Akhir Tahun Migrant CARE
Memperingati International Migrants Day
18 Desember 2011
Pemerintah Masih Mengingkari Tanggungjawab Perlindungan untuk Buruh Migran Indonesia !!!
Di sepanjang tahun 2011, selain masih terus diharu-biru oleh derita buruh migran Indonesia yang mengalami penangkapan, pengusiran, kekerasan, perkosaan dan kematian, rakyat Indonesia menyaksikan kenyataan adanya eksekusi pemancungan terhadap Ruyati. Realitas tersebut menegasikan gambaran-gambaran ideal (yang belum terwujud) mengenai perlindungan buruh migran Indonesia yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di International Labour Conference bulan Juni 2011.
Dalam pidato yang disampaikan di markas besar ILO Jenewa, Presiden SBY meyakinkan bahwa hak-hak buruh migran Indonesia telah dihormati dan terlindungi. Disampaikan pula bahwa Indonesia telah memiliki regulasi dan institusi yang melindungi pahlawan devisa tersebut. Sebaliknya, kasus-kasus nyata yang dialami oleh buruh migran Indonesia tak disampaikan. Menjelang keberangkatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jenewa, Isti Komariyah (PRT migran asal Banyuwangi Jatim) meninggal dunia di Malaysia akibat disiksa oleh majikannya, bahkan diindikasikan tidak diberi makan selama berbulan-bulan. Sementara di Singapura, Sulastri (PRT migran asal Banyumas Jateng) juga meninggal dunia karena mengalami kerusakan otak akibat percobaan bunuh diri.
Eksekusi pemancungan terhadap Ruyati juga membuka kotak pandora ratusan kasus buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati di berbagai negara yang selama ini ditutup-tutupi oleh para pejabat negara yang lebih suka menghitung aliran masuk remitansi keringat buruh migran Indonesia dan bahkan mengambil keuntungan dari aliran remitansi yang semakin tahun semakin deras mengucur.
Anehnya, kematian Ruyati ditangan algojo pemancung dan terancamnya nyawa ratusan buruh migran Indonesia di ujung pisau penggal dan tiang gantungan tak mampu menggerakkan nurani rezim SBY-Boediono untuk melakukan tindakan politik yang nyata. Kegentingan yang mengancam nyawa ratusan warga negara Indonesia yang seharusnya menjadi prioritas pembelaan kepala negara dan kepala pemerintahan Republik Indonesia hanya didelegasikan kepada sekumpulan pensiunan menteri, mantan pejabat tinggi dan birokrat (dalam Satgas Penanganan WNI/TKI Yang Terancam Hukuman Mati) yang sebenarnya adalah sumber masalah dalam diplomasi perlindungan buruh migran Indonesia.
Selanjutnya klik: http://www.migrantcare.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=6&artid=1467
Dear admin, update your security please.
|
|
|
| BERITA MIGRAN |
|
|
Penempatan Minus Memanusiakan
Minggu, 30 Desember 2012 04:57:00 -- Persoalan rekrutmen dipandang menjadi akar masalah penempatan tenaga kerja Indonesia. Namun, persoalan yang tak kalah krusial justru sistem penempatan yang menempatkan TKI minus upaya memanusiakan. |
| |
Pardoned house maid returns home safely
Sabtu, 29 Desember 2012 08:26:00 -- Bayanah binti Bahnawi, the Indonesian migrant worker who escaped the death penalty for committing murder in Saudi Arabia, returned home on Wednesday and said she was emotionally scarred by the ordeal.
|
| |
Seperti Mendorong Batu ke Bukit
Selasa, 18 Desember 2012 00:00:00 -- Tanggal 1 November 2011, Anis Hidayah (35) bersama enam aktivis dari
Mesir, Iran, Meksiko, Rusia, Tunisia, dan Zimbabwe menerima penghargaan
Alison Des Forges Award for Extraordinary Activism dari Human Rights
Watch di New York |
| |
Pengiriman TKI Sektor Informal Dihentikan Bertahap
Kamis, 26 Januari 2012 13:52:00 -- JAKARTA - Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans)
akan menghentikan pengiriman TKI sektor informal, seperti pembantu
rumah tangga (PRT), secara bertahap mulai tahun ini hingga 2017
mendatang. |
| |
Pembebasan Nesi dan Neneng Dipertanyakan
Senin, 16 Januari 2012 03:56:00 -- Aktivis pembela hak buruh migran mempertanyakan klaim pembebasan dua tenaga kerja Indonesia terancam hukuman mati di Arab Saudi oleh Satuan Tugas Perlindungan WNI/TKI di Luar Negeri yang Terancam Hukuman Mati |
| |
|
|
 |
 |
|
 |